BAGAIMANA SEORANG TIDAK MENGETAHUI DIMANA ALLOH SEMENTARA MAHLUQ YANG PALING KAFIR IBLIS MENGETAHUI DIMANA ALLOH

Tinggalkan komentar

15 November 2012 oleh abuhurairohjakarty

بسم الله الرحمن الرحيم

pentingnya seorang muslim mengetahui aqidah salaf sebagaimana yang di jelaskan dalil di bawah ini

Dalil dari As Sunnah adalah hadits Mu’awiyah bin Al Hakam As Sulamiy dengan lafazh dari Muslim,
“Saya memiliki seorang budak yang biasa mengembalakan kambingku sebelum di daerah antara Uhud dan Al Jawaniyyah (daerah di dekat Uhud, utara Madinah, pen). Lalu pada suatu hari dia berbuat suatu kesalahan, dia pergi membawa seekor kambing. Saya adalah manusia, yang tentu juga bisa timbul marah. Lantas aku menamparnya, lalu mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perkara ini masih mengkhawatirkanku. Aku lantas berbicara pada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah aku harus membebaskan budakku ini?” “Bawa dia padaku,” beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berujar. Kemudian aku segera membawanya menghadap beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya pada budakku ini,

أَيْنَ اللَّهُ
Di mana Allah?
Dia menjawab,
فِى السَّمَاءِ
Di atas sana.”
Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi,
مَنْ أَنَا
Siapa saya?
Budakku menjawab,
أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ
Engkau adalah Rasulullah.
Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ
Merdekakanlah dia karena dia adalah seorang mukmin.” (HR. Ahmad [5/447], Malik dalam Al Muwatho’ [666], Muslim [537], Abu Daud [3282], An Nasa’i dalam Al Mujtaba’ [3/15], Ibnu Khuzaimah [178-180], Ibnu Abi ‘Ashim dalam As Sunnah [1/215], Al Lalika’iy dalam Ushul Ahlis Sunnah [3/392], Adz Dzahabi dalam Al ‘Uluw [81])

menguji keimanan kepada seseorang adalah bagian dari sunnah nabi shalallohu alaihi wa salam dengan ini bukti ittiba mengikuti sebagaimana beliau lakukan

bertanya kepada seseorang atau diri kita sendiri dimana ALLOH ? kewajiban seorang muslim adalah mengetahui dimana ALLOH,maka perlunya dalil untuk mengetahui dimana ALLOH azza wa jalla bersemayam ???

Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini bahwa dzat Allah subhanahu wa ta’ala bersemayam di atas ‘Arsy, Dia tidaklah berada di alam ini (sebagaimana makhluk-Nya), bahkan Allah terpisah dari makhluk-Nya. Namun Allah tetap mengetahui segala sesuatu, tidak ada sesuatu di bumi dan di langit yang samar dari-Nya. Allah Ta’alaberfirman,

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Al A’rof : 54)
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
 (Yaitu) Rabb Yang Maha Pemurah yang bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Thoha [20] : 4-5)
ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ الرَّحْمَنُ فَاسْأَلْ بِهِ خَبِيرًا
Kemudian Allah bersemayam di atas Arsy, (Dialah) Yang Maha Pemurahmaka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang Dia.” (QS. Al Furqon [25] : 59)
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ
Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. As Sajdah [32] : 4)
وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ
Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air.” (QS. Hud [11] : 7)
Dan yang menunjukkan bahwa Allah berada di atas seluruh makhluk-Nya adalah dalil tentang diturunkannya Al Qur’an dari sisi-Nya. Telah kita ketahui bahwa setiap sesuatu yang turun itu adalah dari atas ke bawah. Allah Ta’alaberfirman,
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ
Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu.” (QS. Al Ma’idah [5] : 48)
حم (1) تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ (2)
Haa Miim. Diturunkan Kitab ini (Al Qur’an) dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS. Ghofir [40] : 1-2)
حم تَنْزِيلٌ مِنَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Haa Miim. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. Fushshilat [40] : 1-2)

SUBHAT ADA YANG BERKATA BAHWA ALLOH DIMANA MANA

bantahannya di bawah ini :

Barangsiapa yang meyakini bahwa Allah berada di mana-mana (di setiap tempat), maka dia termasuk Hululiyah(aliran yang menganggap Allah menyatu dengan makhluk, pen). Untuk membantah keyakinan semacam ini adalah dengan dalil-dalil yang telah lewat yang menyatakan bahwa Allah berada di atas sana. Allah bersemayam di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya. Hendaklah seorang muslim itu tunduk pada dalil Al Kitab, As Sunnah, dan Ijma’ (kesepakatan para ulama). Jika tidak demikian berarti dia termasuk orang yang kafir, keluar dari Islam.
Adapun firman Allah,

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ
Dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada.”(QS. Al Hadid [57] : 4)

Menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah, maksud ayat ini adalah Allah bersama makhluk-makhluk-Nya dengan ilmu-Nya sesuai dengan keadaan mereka.
Adapun firman Allah Ta’ala,

وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ
Dan Dialah Allah (yang disembah), baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.” (QS. Al An’am [6] : 3)
Maksud ayat ini yaitu Allah subhanahu wa ta’ala adalah sesembahan dari makhluk yang berada di langit maupun di bumi.
وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ
Dan Dialah Tuhan (Yang disembah) di langit dan Tuhan (Yang disembah) di bumi dan Dia-lah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. Az Zukhruf [43] : 84)

Maksud ayat ini yaitu Allah subhanahu wa ta’ala adalah sesembahan (ilah) dari makhluk yang berada di langit dan di bumi, tidak ada yang berhak disembah selain Dia.

Inilah bentuk kompromi yang benar antara ayat dan hadits tentang hal ini (keberadaan Allah di atas sana dan ayat yang menyatakan Allah di mana-mana, namun maksudnya adalah ilmu-Nya, pen).
Semoga Allah memberi taufik (kepada kebenaran). Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

APAKAH CUKUP DI KATAKAN SESEORANG MUSLIM JIKA MENGETAHUI DIMANA ALLOH AKAN TETAPI MELAKUKAN KESYIRIKAN ?

mari kita simak suatu kisah tentang Iblis adalah mahkluq yang paling kafir di alam semesta ini nash nash telah menceritakan di bawah ini


surah / surat : Al-Hijr Ayat : 27

Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.


surah / surat : Ar-Rahmaan Ayat : 15

dan Dia menciptakan jin dari nyala api

surah / surat : Al-Kahfi Ayat : 50

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam , maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.

Ibnu Katsir rohimahumulloh berkata: “Iblis mengkhianati asal penciptaannya, karena dia sesungguhnya diciptakan dari nyala api, sedangkan asal penciptaan malaikat adalah dari cahaya. Maka Alloh azza wa jalla mengingatkan di sini bahwa Iblis berasal dari kalangan jin, dalam arti dia diciptakan dari api. Al-Hasan Al-Bashri berkata: ‘Iblis tidak termasuk malaikat sedikitpun. Iblis merupakan asal mula jin, sebagaimana Adam sebagai asal mula manusia’.” (Tafsir Al-Qur`anul ’Azhim, 3/94)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t mengatakan: “Iblis adalah abul jin (bapak para jin).” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 406 dan 793)

Sedangkan setan, mereka adalah kalangan jin yang durhaka. Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi rohimahumulloh pernah ditanya tentang perbedaan jin dan setan, beliau menjawab: “Jin itu meliputi setan, namun ada juga yang shalih. Setan diciptakan untuk memalingkan manusia dan menyesat-kannya. Adapun yang shalih, mereka berpegang teguh dengan agamanya, memiliki masjid-masjid dan melakukan shalat sebatas yang mereka ketahui ilmunya. Hanya saja mayoritas mereka itu bodoh.” (Nashihatii li Ahlis Sunnah Minal Jin)

Ibnu Katsir rohimahumulloh menyatakan: “Dan dalam masalah ini (asal-usul iblis), banyak yang diriwayatkan dari ulama salaf. Namun mayoritasnya adalah Israiliyat (cerita-cerita dari Bani Israil) yang (sesungguhnya) dinukilkan untuk dikaji –wallahu a’lam–, Allah lebih tahu tentang keadaan mayoritas cerita itu. Dan di antaranya ada yang dipastikan dusta, karena menyelisihi kebenaran yang ada di tangan kita. Dan apa yang ada di dalam Al-Qur`an sudah memadai dari yang selainnya dari berita-berita itu.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/94)

Asy-Syinqithi menyatakan: “Apa yang disebutkan para ahli tafsir dari sekelompok ulama salaf, seperti Ibnu ‘Abbas dan selainnya, bahwa dahulu iblis termasuk pembesar malaikat, penjaga surga, mengurusi urusan dunia, dan namanya adalah ‘Azazil, ini semua adalah cerita Israiliyat yang tidak bisa dijadikan landasan.” (Adhwa`ul Bayan, 4/120-121)

Setan atau Syaithan  dalam bahasa Arab diambil dari kata yang berarti jauh. Ada pula yang mengatakan bahwa itu dari kata yang berarti terbakar atau batal. Pendapat yang pertama lebih kuat menurut Ibnu Jarir dan Ibnu Katsir, sehingga kata Syaithan artinya yang jauh dari kebenaran atau dari rahmat Allah I (Al-Misbahul Munir, hal. 313).

Ibnu Jarir menyatakan, syaithan dalam bahasa Arab adalah setiap yang durhaka dari jin, manusia atau hewan, atau dari segala sesuatu.
Demikianlah Allah azza wa jalla berfirman:


surah / surat : Al-An’am Ayat : 112

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.

(Dalam ayat ini) Allah menjadikan setan dari jenis manusia, seperti halnya setan dari jenis jin. Dan hanyalah setiap yang durhaka disebut setan, karena akhlak dan perbuatannya menyelisihi akhlak dan perbuatan makhluk yang sejenisnya, dan karena jauhnya dari kebaikan. (Tafsir Ibnu Jarir, 1/49)

Al-Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Dzar rodhiyalallohu anhu, ia berkata: Aku datang kepada Nabi shalallohu alaihi wa salam dan beliau berada di masjid. Akupun duduk. Dan beliau menyatakan: “Wahai Abu Dzar apakah kamu sudah shalat?” Aku jawab: “Belum.” Beliau mengatakan: “Bangkit dan shalatlah.” Akupun bangkit dan shalat, lalu aku duduk. Beliau berkata: “Wahai Abu Dzar, berlindunglah kepada Allah dari kejahatan setan manusia dan jin.” Abu Dzar berkata: “Wahai Rasulullah, apakah di kalangan manusia ada setan?” Beliau menjawab: “Ya.”
Ibnu Katsir menyatakan setelah menyebutkan beberapa sanad hadits ini: “Inilah jalan-jalan hadits ini. Dan semua jalan-jalan hadits tersebut menunjukkan kuatnya hadits itu dan keshahihannya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/172)

IBLIS ADALAH MAHKLUQ YANG PALING KAFIR KARENA DURHAKA KEPADA ALLOH

surah / surat : Al-A’raf Ayat : 14

Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya  sampai waktu mereka dibangkitkan”.


surah / surat : Al-A’raf Ayat : 15

Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.”


surah / surat : Al-A’raf Ayat : 16

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,


surah / surat : Al-A’raf Ayat : 17

kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta’at).

AYAT ini menunjukkan bahwa Iblis adalah mahkluq ALLOH azza wa jalla yang awalnya beriman dan menjadi kufur karena kesombongan dan durhaka.

AYAT ini juga menunjukkan bahwa iblis bercakap cakap kepada ALLOH azza wa jalla langsung dan ini mengisyaratkan bahwa Iblis mengetahui dimana ALLOH azza wa jalla

IBLIS DI USIR DARI SURGA INI MEMBUKTIKAN BAHWA IBLIS MENGETAHUI DIMANA ALLOH


surah / surat : Al-A’raf Ayat : 13

Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”.

AYAT ini membuktikan bahwa Iblis dahulu adalah penghuni surga,ALLOH azza wa jalla mengusir Iblis ” turunlah kamu ” menunjukkan bahwa posisi ALLOH azza wa jalla di atas surga yaitu arsy cukup ini menjadikan bahwa sesungguhnya orang yang tidak mengetahui dimana Alloh maka lebih kafir daripada Iblis walaupun yang sebenarnya Iblis lah yang paling kafir dari seluruh mahkluq di bumi

SUATU KISAH JIN JIN PENCURI BERITA DI LANGIT


surah / surat : Ash-Shaaffat Ayat : 6

Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang,


surah / surat : Ash-Shaaffat Ayat : 7

dan telah memeliharanya (sebenar-benarnya) dari setiap syaitan yang sangat durhaka,


surah / surat : Ash-Shaaffat Ayat : 8

syaitan syaitan itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru.

surah / surat : Ash-Shaaffat Ayat : 9

Untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal,


surah / surat : Ash-Shaaffat Ayat : 10

akan tetapi barangsiapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan); maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang.


surah / surat : Al-Jin Ayat : 8

dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api,


surah / surat : Al-Jin Ayat : 9

dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya).

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلمbersabda:

إِذَا قَضَى اللَّهُ الْأَمْرَ فِي السَّمَاءِ ضَرَبَتْ الْمَلَائِكَةُ بِأَجْنِحَتِهَا خُضْعَانًا لِقَوْلِهِ كَأَنَّهُ سِلْسِلَةٌ عَلَى صَفْوَانٍفَإِذَا {فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوا} لِلَّذِي قَالَ {الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ} فَيَسْمَعُهَا مُسْتَرِقُ السَّمْعِ وَمُسْتَرِقُ السَّمْعِ هَكَذَا بَعْضُهُ فَوْقَ بَعْضٍ وَوَصَفَ سُفْيَانُ بِكَفِّهِ فَحَرَفَهَا وَبَدَّدَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ فَيَسْمَعُ الْكَلِمَةَ فَيُلْقِيهَا إِلَى مَنْ تَحْتَهُ ثُمَّ يُلْقِيهَا الْآخَرُ إِلَى مَنْ تَحْتَهُ حَتَّى يُلْقِيَهَا عَلَى لِسَانِ السَّاحِرِ أَوْ الْكَاهِنِ فَرُبَّمَا أَدْرَكَ الشِّهَابُ قَبْلَ أَنْ يُلْقِيَهَا وَرُبَّمَا أَلْقَاهَا قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُ فَيَكْذِبُ مَعَهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ فَيُقَالُ أَلَيْسَ قَدْ قَالَ لَنَا يَوْمَ كَذَا وَكَذَا كَذَا وَكَذَا فَيُصَدَّقُ بِتِلْكَ الْكَلِمَةِ الَّتِي سَمِعَ مِنْ السَّمَاءِ

“Apabila Allah telah memutuskan suatu perkara di langit, para malaikat akan mengepakkan sayap-sayap mereka karena merendahkan diri mereka terhadap perkataan Allah. (Suara Allah) seolah-olah seperti (suara gemerincing) rantai besi di atas batu yang keras lagi licin. Ketika para malaikat tersadar (dari pingsan setelah mendengar suara tersebut) mereka bertanya: ‘Apakah yang diucapkan oleh Rabb kalian?’ Malaikat yang lain menjawab: ‘(Allah mengucapkan) kebenaran. Dia adalah Al ‘Aliy (Maha tinggi) lagi Al Kabir (Maha besar).’ Lalu para jin pencuri kabar langit mendengar percakapan ini. [Para jin pencuri kabar langit ini demikian posisinya, jin yang satu berada di atas jin yang lain. Sufyan -salah satu perawi hadits ini- menjelaskan dengan telapak tangannya. Dia memiringkannya dan merenggangkan jari-jarinya.] Jin yang paling atas menyampaikan kabar langit kepada jin yang berada di bawahnya, lalu dia menyampaikan kabar kepada jin lain yang berada di bawahnya hingga jin tersebut menyampaikan kabar tersebut melalui lisannya tukang sihir atau dukun. Terkadang jin pencuri terkena panah api sebelum menyampaikan kabar tersebut, dan terkadang dia sempat menyampaikannya sebelum terkena panah api. Lalu dia berdusta dengan kabar itu sebanyak seratus kedustaan. Lalu orang akan berkata: ‘Bukankah dia (tukang sihir/dukun) telah berkata bahwa pada hari sekian (akan/telah) terjadi hal ini dan itu?’ Maka dibenarkanlah dia dengan sebab kabar yang didengar dari langit.” [HR Al Bukhari (4800)]

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, berkata: “Manusia bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam tentang para dukun.Lalu beliau menjawab: “Mereka ini tidak memiliki keistimewaan sama sekali.” Maka mereka (para sahabat) berkata : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka itu kadang mengabarkan kepada kami tentang sesuatu yang ternyata memang terjadi.” Lantas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam menegaskan : “Sesuatu yang dikabarkan itu asalnya adalah berita benar yang dicuri oleh jin (dari langit-pen) Kemudian jin mengabarkannya ke telinga walinya (dukun-pen) namun (dukun tersebut) menambahkan 100 kedustaan pada berita tadi.” [H.R al Bukhari. Lihat Muslim]

Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam memberitakan (artinya): “Apabila Allah menetapkan sebuah perkara di langit maka para malaikat meletakkan sayap-sayapnya dalam keadaan tunduk terhadap ucapan-Nya. Seakan-akan ucapan yang didengar itu seperti rantai yang diseret di atas batu yang halus. Tatkala ketakutan dicabut dari hati mereka maka mereka bertanya (kepada malaikat lainnya -pen) :”Apa yang diucapkan Rabb kalian?” Malaikat (yang ditanya) pun menjawab: “Kebenaran dan Dia (Allah) adalah Dzat Yang Maha Tinggi dan Maha Besar.” Ternyata (jawaban malaikat tadi) didengar oleh para pencuri pendengaran. Para pencuri pendengaran keadaannya demikian (yaitu) sebagian berada di atas sebagian yang lain. Apabila sebagian mendengar berita tadi maka segera menyampaikan kepada sebagian lain yang berada di bawahnya. Kemudian sebagian berikutnya menyampaikan berita tadi kepada sebagian lain yang ada di bawahnya lagi lalu menyampaikanya kepada tukang sihir atau dukun…” [H.R al Bukhari]

Qotadah berkata, “Bintang-bintang diciptakan untuk 3 perkara; sebagai hiasan langit, alat pelempar syaithan-syaithan, dan penunjuk arah. Barangsiapa yang menafsirkan keberadaan bintang-bintang itu untuk selain dari 3 perkara tersebut maka dia telah salah dan menyia-nyiakan amalnya serta memberat-beratkan dirinya dengan sesuatu yang tidak ia ketahui. (HR. Al Bukhori)

nasehat terakhir dari akhir malzamah ini :

mengangkat mahkluq yang paling kafir adalah bukan maksud tujuan kami memulyakannya,sesungguhnya kami menghinakannya.

maksud tujuan kami adalah membuktikan bahwa sesungguhnya bahwa Iblis mengakui bahwa ALLOH azza wa jalla menciptakan seluruh mahkluq di dunia maupun di langit ini sebagai bahwa TAUHID RUBUBIYAH pada IBLIS

sebagaimana bantahan terhadap MULHIDIYYAH ASWAJA yang menuduh syaikh muhammad abdul wahab rohimahumulloh yang mengatakan kafir qurais mempunyai TAUHID RUBUBIYYAH akan tetapi dalam perkara peribadatan TAUHID ULUHIYAH membuat berhala berhala sebagi sesembahan selain ALLOH azza wa jalla maka ini sepantasnya di katakan kafir

bagaimana dengan para jin jin yang mencuri berita di langit inilah menunjukkan bahwa ALLOH azza wa jalla di atas langit,padahal jin jin
syaithon yang mencuri berita di langit jin jin kafir dan pembantunya kalangan thogut para dukun

ini menunjukkan sesungguhnya seluruh mahkluq di dunia mengetahui dimana ALLOH azza wa jalla,karena tidak ada mahluq di dunia yang lebih kafir daripada Iblis bapaknya syaithon

adapun orang orang yang mengaku muslim tidak mengetahui dimana ALLOH azza wa jalla tidaklah lebih kafir daripada Iblis,sesungguhnya mereka tertipu oleh bisikan syaithon dan menafikan semayam-Nya ALLOH azza wa jalla di atas Arsy

dan ulama menghukumi orang orang tidak mengetahui dimana ALLOH di langit atau di atas Arsy seperti di bawah ini

Imam Abu Hanifah (tahun 80-150 H) mengatakan dalam Fiqhul Akbar,

من انكر ان الله تعالى في السماء فقد كفر

“Barangsiapa yang mengingkari keberadaan Allah di atas langit, maka ia kafir.” [Lihat Itsbatu Shifatul ‘Uluw, Ibnu Qudamah Al Maqdisi, hal. 116-117, Darus Salafiyah, Kuwait, cetakan pertama, 1406 H. Lihat pula Mukhtashor Al ‘Uluw, Adz Dzahabiy, Tahqiq: Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, hal. 137, Al Maktab Al Islamiy].

Dari Abu Muthi’ Al Hakam bin Abdillah Al Balkhiy -pemilik kitab Al Fiqhul Akbar-, beliau berkata,

سألت أبا حنيفة عمن يقول لا أعرف ربي في السماء أو في الأرض فقال قد كفر لأن الله تعالى يقول الرحمن على العرش استوى وعرشه فوق سمواته فقلت إنه يقول أقول على العرش استوى ولكن قال لا يدري العرش في السماء أو في الأرض قال إذا أنكر أنه في السماء فقد كفر رواها صاحب الفاروق بإسناد عن أبي بكر بن نصير بن يحيى عن الحكم

Aku bertanya pada Abu Hanifah mengenai perkataan seseorang yang menyatakan, “Aku tidak mengetahui di manakah Rabbku, di langit ataukah di bumi?” Imam Abu Hanifah lantas mengatakan, “Orang tersebut telah kafir karena Allah Ta’ala sendiri berfirman,

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy”. [QS. Thaha: 5] Dan ‘Arsy-Nya berada di atas langit.” Orang tersebut mengatakan lagi, “Aku berkata bahwa Allah memang menetap di atas ‘Arsy.” Akan tetapi orang ini tidak mengetahui di manakah ‘Arsy, di langit ataukah di bumi. Abu Hanifah lantas mengatakan, “Jika orang tersebut mengingkari Allah di atas langit, maka dia kafir.” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghofar, Adz Dzahabi, hal. 135-136, Maktab Adhwaus Salaf, Riyadh, cetakan pertama, 1995 ]

alhamdulillah selesai…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: