inilah aqidah sesat aswaja menyerupai mulhid atheis

1

13 November 2012 oleh abuhurairohjakarty

بسم الله الرحمن الرحيم


Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: “Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?” Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?” [ surah / surat : Al-An’am Ayat : 50 ]


Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.[ surah / surat : An-Naml Ayat : 65 ]

dalil di atas memberi penjelasan bahwa setiap kabar dari langit adalah
termasuk ghoib hanya ALLOH subhana wa ta’ala saja yang mengetahui-Nya

rosululloh shalallohu alaihi wa salam pada asalnya tidak mengetahui tentang keadaan di langit hingga wahyu datang kepadanya berserta ILMU pengatahuan ini menunjukkan tidak ada yang mengetahui kehendak ALLOH azza wa jalla yang mengatur alam semesta dan makluq2-Nya baik rosululloh shalallohu alaihi wa salam dan para malaikat malaikat-Nya

lihatlah mereka kaum ASWAJA berkata di bawah ini

Dia tidak membutuhkan untuk duduk atau bertempat di atas Arsy

bantahan subhat  pertama :

bagaimana mereka aswaja bisa mengetahui tentang perkara ini,sedangkan perkara ini adalah perkara ghoib tidak di ketahui oleh seluruh mahkluq baik manusia atau para malaikat jangankan apa yang ALLOH azza wa jalla pikirkan sedangkan pikiran sesama manusia tidak di ketahui karena bagian kasyaf yaitu alam pikiran termasuk ghoib ?

apakah mereka aswaja mendapatkan wahyu hingga mereka mengetahui apa apa yang ALLOH azza wa jalla pikirkan ?

Allah ada tanpa bertempat

bantahan subhat kedua :

kalimat bahasa indonesia seperti ini ” ALLAH ADA TANPA BERTEMPAT ” secara bahasa indonesia ini termasuk hakekat sebenarnya adalah ” ALLAH TIDAK ADA KARENA TIDAK DI KETAHUI KEBERADAAn-Nya ”

mereka berkata tentang ISTAWA :

Sedangkan makna tersirat atau makna majaz (makna kiasan) dari bersemayam adalah terkait dengan hati, terpendam dalam hati, tersimpan (kata kiasan); Sudah lama pendam itu bersemayam di hatinya atau cinta bersemayam di hatinya.

Termasuk bid’ah menjelaskan tentang istawa-Nya

para ulama umat dan tokoh tokoh imam dan kalangan salaf rohimahumulloh tak pernah berselisih pendapat,bahwa ALLOH azza wa jalla di atas arsy-Nya,dan sesungguhnya Arsy-Nya itu di atas tujuh lapis langit.karena itu,mereka menetapkan segala di tetapkan oleh alloh,mengimaninya,dan membenarkan alloh azza wa jalla dalam setiap berita-Nya.mereka mengemukakan apa yang di kemukakan alloh mengenai semayam-Nya alloh di atas arsy-Nya.mereka membiarkan pengertian ayat itu sebagai makna dzahirnya.sementara mereka menyerahkan hakikat yang sesungguhnya kepada allah azza wa jalla.mereka berkata :

surah / surat : Ali Imran Ayat : 7

inilah s7. Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al-Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat [183], itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat [184]. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.

sebagaimana alloh ungkapkan berkenaan dengan orang orang yang mendalami ilmunya ” Ar-Rosikhuun ” bahwa mereka menyatakan seperti itu. Alloh pun meridhoinya dan menyanjung mereka atas perbuatan tersebut.

dari ummu salamah rodhiyallohu anha tentang firman-Nya :


surah / surat : Thaahaa Ayat : 5

(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy

beliau berkata : ” kata Al-istawa ” ( bersemayam ) bukanlah makna yang asing,hakikatnya tak usah di pikirkan mengakui hal itu adalah keimanan,mengingkari bearti kekufuran. [ di keluarkan Al-laalika’i seperti fathul bari ( XIII ; 406 ) Dari jalan yang sama di sebut oleh azd-Dzahabi Dalam Al-Uluww ( hal.65.). di keluarkan juga oleh ibnu qudamah Al-maqdisi dalam kitabnya Al-uluww ( 87 )

jafar bin abdillah ia berkata : ada seseorang lelaki datang menemui imam malik bin anas, bertanya tentang firman Alloh azza wa jalla ” surat : Thaahaa Ayat : 5 Alloh  bersemayam di atas ‘Arsy,bagaimana Istiwa Alloh ? ” maka ( perawi ) berkata : belom pernah aku melihat beliau [ imam malik ] marah sedemikian rupa marahnya beliau terhadap orang itu.tubuhnya berkeringat,orang orangpun terdiam.mereka terus menantikan apa yang akan terjadi.kemudian setelah keadaan imam malik kembali normal,beliau berucap : hakikatnya tidak mungkin di ketahui ” tapi apa kata Istiwa ” bukanlah asing,mengimaninya adalah kewajiban,menyoal hakikatnya adalah kebid’ahan,dan aku khawatir kamu berada dalam kesesatan kemudian beliau memerintahkan orang tersebut untuk di keluarkan [ saya katakan : mahdi bin ja’far adalah orang jujur,namun memiliki banyak kekeliruan penukilan sebagaimana di jelaskan dalam ” At-taqrieb ” di keluarkan abu nuaim ( VI : 325 – 326 ),juga dari Al- qadhi Abu umayyah Al-Ghallaabi ,dari salamah bin syabib dengan pengertian yang sama,namun berbunyi lafazhnya berbeda,terkadang dalam beberapa jalur riwayat di sebutkan secara ringkas ]

Telah masyhur riwayat Al-Imam Maalik bin Anas rahimahullah sebagai berikut :

ذكره علي بن الربيع التميمي المقري قال ثنا عبد الله ابن أبي داود قال ثنا سلمة بن شبيب قال ثنا مهدي بن جعفر عن جعفر بن عبد الله قال جاء رجل إلى مالك بن أنس فقال يا أبا عبد الله الرحمن على العرش استوى كيف استوى قال فما رأيت مالكا وجد من شيء كموجدته من مقالته وعلاه الرحضاء يعني العرق قال واطرق القوم وجعلوا ينتظرون ما يأتي منه فيه قال فسرى عن مالك فقال الكيف غير معقول والاستواء منه غير مجهول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة فإني أخاف أن تكون ضالا وامر به فأخرج

Telah menyebutkan kepadanya ‘Aliy bin Ar-Rabii’ At-Tamimiy Al-Muqri’, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Abi Dawud, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Salamah bin Syabiib, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Mahdiy bin Ja’far, dari Ja’far bin ‘Abdillah, ia berkata : Datang seorang laki-laki kepada Malik bin Anas. Ia berkata : “Wahai Abu ‘Abdillah, ‘Ar-Rahman yang beristiwaa’ (bersemayam) di atas ‘Arsy’; bagaimana Allah beristiwaa’ ?”. Perawi berkata : “Belum pernah aku melihat beliau (Malik) marah sedemikian rupa seperti marahnya beliau kepada orang itu. Tubuhnya berkeringat, orang-orang pun terdiam. Mereka terus menantikan apa yang akan terjadi. Maka keadaan Al-Imam Malik kembali normal, beliau berkata : “Kaifiyah-nya tidaklah dapat dinalar, istiwaa’ sendiri bukan sesuatu yang majhul, beriman kepadanya adalah wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid’ah. Dan sesungguhnya aku khawatir kamu berada dalam kesesatan”. Kemudian beliau memerintahkan orang tersebut untuk dikeluarkan dari majelisnya. [Syarh Ushuulil-I’tiqad Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah, hal. 398, tahqiq : Ahmad bin Mas’ud bin Hamdaan; desertasi S3].

Makna “istiwaa’ itu bukan sesuatu yang majhuul” adalah bahwa istiwaa’ itu diketahui maknanya secara hakiki sebagaimana dhahir bahasa Arab yang jelas.

 

Talbis ASWAJA merancukan antara langit dan arsy membuat bingung orang awam

bantahan subhat ketiga :

tidaklah perkataan LANGIT bertentangan dengan ARSY di atas langit ketujuh sebagaimana dalil dalil di bawah ini


surah / surat : Yunus Ayat : 3

Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Rabb kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?

surah / surat : Ar-Ra’d Ayat : 2

Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Rabbmu.


surah / surat : Al-Mulk Ayat : 16

Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?,

Alloh azza wa jalla memberitakan tentang fir’aun,yang terlaknat.Bahwasanya ia pernah berkata kepada ( pembantunya ) Haman :

surah / surat : Al-Mu’min Ayat : 36

Dan berkatalah Fir’aun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu,


surah / surat : Al-Mu’min Ayat : 37

(yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta”. Demikianlah dijadikan Fir’aun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir’aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian.

dari dalil di atas ini menjelaskan bahwa fir’aun mengetahui bahwa Alloh azza wa jalla adalah ILA nabi musa alaihi wa salam berada di langit lalu di ingkari oleh fir’aun memutar balikkan dengan tuduhan dusta

hadits hadits dan ucapan ucapan para imam salaf tentang langit dan arsy di bawah ini

Dari Abu Razin berkata: Saya pernah bertanya: “Ya Rasulullah, dimana Allah sebelum menciptakan makhlukNya?” Nabi menjawab: “Dia berada di atas awan, tidak ada udara di bawahnya maupun di atasnya, tidak makhluk di sana, dan ArsyNya di atas air”. [HR. Tirmidzi (2108), Ibnu Majah (182), Ibnu Hibban (39 -Al-Mawarid), Ibnu Abi Ashim (1/271/612), Ahmad (4/11,12) dan Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid (7/137). Lihat As-Shahihah 6/469)].

Abu Bakar ash Shidiq radhiyallahu ‘anhu berkata, “Barang siapa yang menyembah Allah maka Allah berada di langit, ia hidup dan tidak mati.” [Riwayat Imam ad Darimiy dalam Ar Radd ‘Alal Jahmiyah].

Dari Zaid bin Aslam, dia berkata,

مر ابن عمر براع فقال هل من جزرة فقال ليس هاهنا ربها قال ابن عمر تقول له أكلها الذئب  قال فرفع رأسه إلى السماء وقال فأين الله فقال ابن عمر أنا والله أحق أن أقول أين الله واشترى الراعي والغنم فأعتقه وأعطاه الغنم

“(Suatu saat) Ibnu ‘Umar melewati seorang pengembala. Lalu beliau berkata,  “Adakah hewan yang bisa disembelih?” Pengembala tadi mengatakan, “Pemiliknya tidak ada di sini.” Ibnu Umar mengatakan, “Katakan saja pada pemiliknya bahwa ada serigala yang telah memakannya.” Kemudian pengembala tersebut menghadapkan kepalanya ke langit. Lantas mengajukan pertanyaan pada Ibnu Umar, ”Lalu di manakah Allah?” Ibnu ‘Umar malah mengatakan, “Demi Allah, seharusnya aku yang berhak menanyakan padamu ‘Di mana Allah?’.”

Kemudian setelah Ibnu Umar melihat keimanan pengembala ini, dia lantas membelinya, juga dengan hewan gembalaannya (dari Tuannya). Kemudian Ibnu Umar membebaskan pengembala tadi dan memberikan hewan gembalaan tadi pada pengembara tersebut. [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar no. 311. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad riwayat ini jayyid sebagaimana dalam Mukhtashor Al ‘Uluw no. 95, hal. 127].

Ibnu Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu berkata:

والعرش على الماء والله عز وجل على العرش يعلم ما أنتم عليه

“Arsy berada di atas air, dan Allah ‘azza wa jalla berada di atas ‘Arsy, yang mengetahui apa-apa yang kalian lakukan” [HR. Ath-Thabarani dalam Al-Kabiir; shahih].

Ibnu Abbas menemui ‘Aisyah ketika ia baru saja wafat. Ibnu Abbas berkata padanya,

كنت أحب نساء رسول الله صلى الله عليه وسلم ولم يكن يحب إلا طيبا وأنزل الله براءتك من فوق سبع سموات

“Engkau adalah wanita yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidaklah engkau dicintai melainkan kebaikan (yang ada padamu). Allah pun menurunkan perihal kesucianmu dari atas langit yang tujuh.” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar no. 335].

Dari Ka’ab Al Ahbar [meninggal pada tahun 32 atau 33 H] berkata bahwa Allah ‘azza wa jalla dalam taurat berfirman,

أنا الله فوق عبادي وعرشي فوق جميع خلقي وأنا على عرشي أدبر أمور عبادي ولا يخفى علي شيء في السماء ولا في الأرض

“Sesungguhnya Aku adalah Allah. Aku berada di atas seluruh hamba-Ku. ‘Arsy-Ku berada di atas seluruh makhluk-Ku. Aku berada di atas ‘Arsyku. Aku-lah pengatur seluruh urusan hamba-Ku. Segala sesuatu di langit maupun di bumi tidaklah samar bagi-Ku. ” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar no. 315. Adz Dzahabi mengatakan  bahwa sanadnya shahih. Begitu pula Ibnul Qayyim dalam Ijtima’ul Juyusy Al Islamiyah mengatakan bahwa riwayat ini shahih].

Penjelasan Al-Imam Mujahid rahimahullah [dilahirkan pada tahun 21 Hijrah dan meninggal pada tahun 103 Hijrah] – murid Ibnu ‘Abbas – mengenai  firman Allah istawaa ‘alal-‘Arsy :

علا على العرش

“Ia berada tinggi di atas ‘Arsy.” [HR. Al-Bukhari].

 Imam Adh-Dhahhaak [wafat th. 102 H].

Ahmad (bin Hanbal) meriwayatkan dengan sanadnya sampai Adh-Dhahhaak tentang ayat (yang artinya) : ‘Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya’ (QS. Al-Mujaadalah : 7); maka Adh-Dhahhaak berkata :

هو على العرش وعلمه معهم

“Allah berada di atas ‘Arsy, dan ilmu-Nya bersama mereka”.  [As-Sunnah oleh ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal hal. 80 – melalui perantaraan Al-Masaail war-Rasaail Al-Marwiyyatu ‘anil-Imam Ahmad bin Hanbal fil-‘Aqiidah oleh ‘Abdullah bin Sulaimaan Al-Ahmadiy, 1/319; Daaruth-Thayyibah, Cet. 1/1412].

Harun bin Ma’ruf mengatakan, Dhomroh mengatakan pada kami dari Shodaqoh, dia berkata bahwa dia mendengar Sulaiman At Taimiy berkata,

لو سئلت أين الله لقلت في السماء

“Seandainya aku ditanyakan di manakah Allah, maka aku menjawab (Allah berada) di atas langit.” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar no. 357. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa periwayat riwayat ini tsiqoh/terpercaya. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 133].

Ayyub As Sikhtiyani [wafat th. 131 H].

Hamad bin Zaid mengatakan bahwa ia mendengar Ayyub As Sikhtiyani berbicara mengenai Mu’tazilah,

إنما مدار القوم على أن يقولوا ليس في السماء شيء

“Mu’tazilah adalah asal muasal kaum yang mengatakan bahwa di atas langit tidak ada sesuatu apa pun.” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar no. 354].

Robi’ah bin Abi ‘Abdirrahman [Wafat tahun 136 H ].

Sufyan Ats Tsauriy mengatakan bahwa ia pernah suatu saat berada di sisi Robi’ah bin Abi ‘Abdirrahman kemudian ada seseorang yang bertanya pada beliau,

الرحمن على العرش استوى كيف استوى

“Ar Rahman (yaitu Allah) beristiwa’ (menetap tinggi) di atas ‘Arsy, lalu bagaimana Allah beristiwa’?” Robi’ah menjawab,

الإستواء غير مجهول والكيف غير معقول ومن الله الرسالة وعلى الرسول البلاغ وعلينا التصديق

“Istiwa’ itu sudah jelas maknanya. Sedangkan hakikat dari istiwa’ tidak bisa digambarkan. Risalah (wahyu) dari Allah, tugas Rasul hanya menyampaikan, sedangkan kita wajib membenarkan (wahyu tersebut).” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar no. 352. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa riwayat ini shahih. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw hal. 132].

Imam Abu Hanifah (tahun 80-150 H) mengatakan dalam Fiqhul Akbar,

من انكر ان الله تعالى في السماء فقد كفر

“Barangsiapa yang mengingkari keberadaan Allah di atas langit, maka ia kafir.” [Lihat Itsbatu Shifatul ‘Uluw, Ibnu Qudamah Al Maqdisi, hal. 116-117, Darus Salafiyah, Kuwait, cetakan pertama, 1406 H. Lihat pula Mukhtashor Al ‘Uluw, Adz Dzahabiy, Tahqiq: Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, hal. 137, Al Maktab Al Islamiy].

Dari Abu Muthi’ Al Hakam bin Abdillah Al Balkhiy -pemilik kitab Al Fiqhul Akbar-, beliau berkata,

سألت أبا حنيفة عمن يقول لا أعرف ربي في السماء أو في الأرض فقال قد كفر لأن الله تعالى يقول الرحمن على العرش استوى وعرشه فوق سمواته  فقلت إنه يقول أقول على العرش استوى ولكن قال لا يدري العرش في السماء أو في الأرض  قال إذا أنكر أنه في السماء فقد كفر رواها صاحب الفاروق بإسناد عن أبي بكر بن نصير بن يحيى عن الحكم

Aku bertanya pada Abu Hanifah mengenai perkataan seseorang yang menyatakan, “Aku tidak mengetahui di manakah Rabbku, di langit ataukah di bumi?” Imam Abu Hanifah lantas mengatakan, “Orang tersebut telah kafir karena Allah Ta’ala sendiri berfirman,

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy”. [QS. Thaha: 5] Dan ‘Arsy-Nya berada di atas langit.” Orang tersebut mengatakan lagi, “Aku berkata bahwa Allah memang menetap di atas ‘Arsy.” Akan tetapi orang ini tidak mengetahui di manakah ‘Arsy, di langit ataukah di bumi. Abu Hanifah lantas mengatakan, “Jika orang tersebut mengingkari Allah di atas langit, maka dia kafir.” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghofar, Adz Dzahabi, hal. 135-136, Maktab Adhwaus Salaf, Riyadh, cetakan pertama, 1995].

Imam Malik bin Anas (tahun 93-179 H),

Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dalam Ar-Radd ‘alal-Jahmiyyah : Telah menceritakan ayahku, kemudian ia menyebutkan sanadnya dari ‘Abdullah bin Naafi’, ia berkata : Telah berkata Malik bin Anas :

الله في السماء، وعلمه في كل مكان، لا يخلو منه شيء.

“Allah berada di atas langit, dan ilmu-Nya berada di setiap tempat. Tidak ada terlepas dari-Nya sesuatu”.  [Diriwayatkan oleh ‘Abdullah dalam As-Sunnah hal. 5, Abu Dawud dalam Al-Masaail hal. 263, Al-Aajuriiy hal. 289, dan Al-Laalikaa’iy 1/92/2 dengan sanad shahih – dinukil melalui perantaraan Mukhtashar Al-‘Ulluw, hal. 140 no. 130].

Tanbih untuk aswaja di bawah ini

1. menolak keberadaan dzat ALLOH
2. menolak nash nash al quran dan hadits hadits shohih tentang istawa di atas arsy
3. meselewengkan makna istawa kepada makna yang tidak di kenal para salaf baik segi lughoh atau kebiasaan orang arab yaitu para sahabat nabi
4. aswaja keluarga dari lingkup agama islam lebih kafir daripada fir’aun karena fir’aun tahu rabb nabi musa di atas langit sedangkan ASWAJA tidak mengetahui dan mengingkari keberadaan ALLOH azza wa jalla

BAHKAN KAMI KATAKAN ASWAJA LEBIH KAFIR DARIPADA IBLIS SECARA DZOHIR KARENA IBLIS PERNAH MENJADI PENGHUNI SURGA KARENA IBLIS MENGETAHUI DIMANA ALLOH WALAUPUN YANG SEBENARNYA HAKEKATNYA IBLIS ADALAH MAHKLUQ ALLOH YANG PALING KAFIR DI ALAM SEMESTA INI !!!

selesai alhamdulillah

Iklan

One thought on “inilah aqidah sesat aswaja menyerupai mulhid atheis

  1. achmad berkata:

    penjelasan yg gamblang tros apalagi yg mau sangkal oleh kaum aswaja??????????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: